Proyeksi Risiko Iklim dan Strategi Adaptasi Industri Jasa Keuangan
- 22 Januari 2026
- Lintas Sektor
- Online
Latar belakang
- Perubahan iklim telah menjadi salah satu isu global yang paling signifikan dan berdampak luas terhadap perekonomian. Dampak perubahan iklim, seperti peningkatan frekuensi bencana alam, perubahan pola cuaca ekstrem, serta transisi menuju ekonomi rendah karbon, menimbulkan risiko yang kompleks bagi sektor keuangan. Risiko iklim dapat berimplikasi langsung pada stabilitas sistem keuangan melalui dampak terhadap portofolio pembiayaan, nilai aset, dan profil risiko lembaga keuangan.
- Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap perubahan iklim karena letak geografisnya di kawasan cincin api dan kondisi iklim tropisnya yang membuat frekuensi bencana hidrometeorologi sangat tinggi. Menurut World Risk Report 2023 yang dirujuk BNPB pada 2024, Indonesia menempati posisi kedua dari 193 negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia setelah Filipina, mencerminkan tingginya kerentanan lingkungan, sosial, dan ekonomi terhadap bencana alam yang dipicu perubahan iklim. Berdasarkan kajian Kementerian PPN/Bappenas untuk periode 2020–2024, Indonesia berpotensi mengalami kerugian ekonomi sekitar Rp 544 triliun akibat dampak perubahan iklim, yang menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan hanya berdampak secara sosial, tetapi juga menimbulkan risiko ekonomi yang signifikan dan perlu diantisipasi oleh seluruh pemangku kepentingan, termasuk industri jasa keuangan.
- Dari perspektif stabilitas sistem keuangan, berbagai otoritas dan forum internasional menegaskan bahwa risiko iklim telah berkembang menjadi sumber kerentanan baru yang perlu dimonitor secara sistematis, termasuk melalui penguatan perencanaan transisi (transition plans) sebagai alat untuk memetakan risiko dan strategi mitigasi secara lebih terukur. Beberapa otoritas menggunakan rencana transisi lembaga keuangan untuk memantau bagaimana eksposur keuangan dapat berubah seiring waktu. Gambaran menyeluruh tentang distribusi eksposur terkait iklim dalam sistem keuangan, termasuk area yang berpotensi mengalami konsentrasi risiko, dapat membantu dalam menyusun skenario untuk memahami bagaimana guncangan ekonomi atau keuangan dapat menyebar dan memengaruhi sistem secara keseluruhan.
- Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa industri jasa keuangan perlu segera memperdalam pemahaman atas proyeksi risiko iklim, baik fisik maupun transisi, serta implikasinya terhadap kualitas aset, profil risiko, dan keberlanjutan model bisnis lembaga keuangan. Sejalan dengan itu, dibutuhkan forum berbagi pengetahuan dan praktik terbaik terkait strategi adaptasi, penguatan manajemen risiko, dan integrasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam pengambilan keputusan bisnis untuk mendukung transisi menuju keuangan berkelanjutan yang tangguh terhadap risiko iklim.
- Memperhatikan hal tersebut, OJK Institute menghadirkan webinar “Proyeksi Risiko Iklim dan Strategi Adaptasi Industri Jasa Keuangan” untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai dampak perubahan iklim terhadap sektor jasa keuangan dan pengelolaan risiko serta strategi adaptif yang efektif. Melalui webinar ini, diharapkan para peserta dapat memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai tantangan dan risiko yang dihadapi serta solusi yang dikembangkan oleh lembaga jasa keuangan akibat perubahan iklim
Objektif
- Memberikan pemahaman yang komprehensif tentang proyeksi risiko iklim dan dampaknya terhadap stabilitas sektor keuangan.
- Meningkatkan kapasitas pelaku industri keuangan dalam mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola risiko iklim dalam portofolio dan operasional bisnis.
Peserta
Pelaku usaha/praktisi/profesional di industri jasa keuangan; Kementerian/Lembaga; Pimpinan dan Pegawai OJK; Akademisi atau Mahasiswa Masyarakat umum.
Pembicara
- Kadarsah (Koordinator Analisis Perubahan Iklim, BMKG)
- Woro Kusumaningrum (Deputi Direktur Madya, Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK)
- Y. Ajeng Sekar Putih (Group Head Environmental, Social & Governance Group PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk)