Print

Outlook Ekonomi di Tahun 2026

  • 19 Februari 2026
  • Lintas Sektor
  • Online

Background
  • Pada tahun 2025, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang signifikan, terlepas dari berbagai dinamika global yang mempengaruhinya. Faktor-faktor eksternal, seperti volatilitas kebijakan moneter, eskalasi ketegangan geopolitik, serta tekanan dan sentimen perdagangan pada awal tahun, menjadi sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Meskipun demikian, Indonesia mampu mempertahankan daya saingnya dengan mencatat pertumbuhan yang solid sepanjang tahun 2025, yang diperkirakan mencapai kisaran 5%. Secara konkret, capaian pertumbuhan tercatat sebesar 5,04% (yoy) pada triwulan III-2025. Sebagai perbandingan, lembaga-lembaga internasional seperti IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global berada pada rentang 3,2% untuk tahun 2025.
  • Ketangguhan sektor keuangan Indonesia sepanjang tahun 2025 menjadi pilar utama stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak pasar global. Performa yang sangat baik terlihat pada pasar modal yang menutup tahun dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp15.810 triliun (tumbuh 28,16% yoy), sementara IHSG mencatatkan rekor all-time high sebanyak 24 kali dengan penguatan 22,10% ytd. Sinergi ini diperkuat oleh sektor perbankan yang tetap ekspansif melalui penyaluran kredit senilai Rp8.315,0 triliun (naik 7,74% yoy) dan penghimpunan DPK yang tumbuh akseleratif sebesar 12,03% menjadi Rp9.899 triliun. Resiliensi juga merambah ke sektor keuangan non-bank, di mana industri asuransi diproyeksikan tumbuh 6% dan piutang pembiayaan tetap di zona positif. Tingginya kepercayaan investor dan fondasi likuiditas yang tebal ini menjadi modalitas utama Indonesia dalam menavigasi tantangan ekonomi di tahun 2026.
  • Memasuki tahun 2026, lanskap ekonomi global masih berada dalam fase transisi yang penuh ketidakpastian. Laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan melandai ke level 2,7% pada tahun 2026, berada di bawah rata-rata pertumbuhan sebelum pandemi sebesar 3,2%. Perlambatan ini dipicu oleh divergensi pertumbuhan di dua mesin ekonomi utama, Amerika Serikat menunjukkan resiliensi dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menuju kisaran 3,00%–3,25% pada tahun 2026. Namun di sisi lain, Tiongkok masih berjuang menghadapi tekanan deflasi dan krisis sektor properti yang diprediksi menekan pertumbuhannya ke level 4,3%.
  • Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Amerika Latin memberikan tantangan bagi Indonesia dengan risiko capital outflow secara tiba-tiba akibat ketidakpastian global, namun sekaligus peluang untuk memperkuat ekspor manufaktur dan investasi hijau di tengah pergeseran rantai pasok dunia. Walaupun IMF menyebut Indonesia sebagai bright spot di tengah gejolak ekonomi global, dengan proyeksi pertumbuhan tetap stabil di kisaran 5%, kewaspadaan terhadap guncangan eksternal tetap menjadi kunci utama dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi sepanjang tahun 2026.
  • Berdasarkan uraian tersebut, perlu digali lebih mendalam langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh regulator dan pelaku usaha dalam menghadapi berbagai tantangan serta mengoptimalkan peluang yang diperkirakan muncul pada tahun 2026. Sehubungan dengan hal tersebut, OJK Institute menyelenggarakan webinar “Outlook Ekonomi di Tahun 2026” sebagai wadah bagi industri keuangan untuk menyelaraskan strategi bisnis agar tetap adaptif dan resilien, sekaligus meningkatkan kesiapan industry keuangan dalam mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sektor keuangan. Oleh karena itu, diperlukan diskusi dan pembahasan yang komprehensif bersama narasumber yang kompeten dari unsur regulator, pelaku industri, dan pakar ekonomi.
Objective
  1. Memberikan pemahaman dan awareness kepada peserta mengenai proyeksi perekonomian dan kondisi sektor keuangan di tahun 2026 baik lingkup nasional maupun global.
  2. Memberikan pemahaman dan awareness kepada peserta mengenai peluang dan tantangan yang akan dihadapi sektor ekonomi dan keuangan di tahun 2026.
  3. Memberikan pemahaman kepada peserta mengenai strategi yang perlu disiapkan regulator maupun industri jasa keuangan dalam menghadapi tantangan di sektor ekonomi dan keuangan di tahun 2026.
Participant
Pimpinan dan Pegawai OJK, Perwakilan Industri Jasa Keuangan, Akademisi dan Masyarakat Umum
Speaker
  • Mari Elka Pangestu (Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional)
  • Hery Gunardi (Direktur Utama Bank BRI)