Membangun Pasar Modal Indonesia yang Kredibel dan Investable di Mata Dunia
- 7 Mei 2026
- Pasar Modal
- Online
Latar belakang
- Jumlah investor pasar modal Indonesia terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sepanjang Maret 2026, tercatat penambahan sebanyak 1,78 juta investor baru (month-to-month), sehingga secara year-to-date jumlah investor tumbuh 21,51% menjadi 24,74 juta investor. Peningkatan ini mencerminkan berkembangnya partisipasi masyarakat dalam pasar modal serta mendukung pendalaman sektor keuangan nasional. Namun demikian, pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan penguatan literasi dan edukasi keuangan yang memadai, agar investor mampu mengambil keputusan investasi secara rasional, berbasis informasi yang akurat, serta berorientasi jangka panjang sehingga tidak mudah terpengaruh oleh spekulasi maupun informasi yang tidak kredibel.
- Di tengah optimisme tersebut, pasar saham domestik tetap menghadapi dinamika yang tinggi, sejalan dengan tekanan yang juga dialami bursa global dan regional. Sepanjang Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat berada pada level 7.048,22, mengalami koreksi sebesar 14,42% secara bulanan (mtm) dan 18,49% secara year-to-date (ytd). Volatilitas ini dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, namun tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
- Di sisi lain, tekanan terhadap pasar modal Indonesia juga dipicu oleh faktor persepsi investor global, terutama setelah adanya concern dari MSCI pada awal 2026. Dalam evaluasinya, MSCI menyoroti sejumlah isu krusial terkait aspek investability, khususnya keterbukaan informasi dan transparansi kepemilikan saham. Keterbatasan data mengenai pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial ownership/UBO) dinilai berpotensi menghambat investor global dalam memastikan bahwa saham-saham yang diperdagangkan memiliki likuiditas yang wajar serta bebas dari praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat mendistorsi pembentukan harga. Kondisi ini bahkan sempat menempatkan Indonesia pada risiko penurunan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market, sehingga menjadi perhatian serius bagi seluruh pemangku kepentingan.
- Merespons tantangan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan bersama Bursa Efek Indonesia dan stakeholders terkait secara konsisten mendorong agenda reformasi dan transformasi pasar modal melalui Rencana Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal Indonesia. Agenda ini mencakup delapan langkah strategis, yaitu kebijakan peningkatan free float saham menjadi minimal 15%, transparansi ultimate beneficial ownership (UBO), penguatan data kepemilikan saham, demutualisasi bursa, penegakan hukum dan sanksi yang lebih tegas, perbaikan tata kelola emiten, pendalaman pasar secara terintegrasi, serta penguatan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan.
- Seiring dengan berlangsungnya proses asesmen lanjutan oleh MSCI dalam rangka MSCI Index Review Mei 2026 dan Market Accessibility Review Juni 2026, Otoritas Jasa Keuangan memandang momentum ini sebagai peluang strategis untuk menunjukkan efektivitas reformasi yang telah dijalankan. Dengan dukungan basis investor domestik yang terus tumbuh, penguatan regulasi, serta komitmen terhadap transparansi dan tata kelola, kita patut optimisme bahwa pasar modal Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk menjadi pasar yang semakin kredibel, likuid, dan investable di mata dunia.
- Sejalan dengan hal tersebut, webinar “Membangun Pasar Modal Indonesia yang Kredibel dan Investable di Mata Dunia” diselenggarakan sebagai wadah strategis untuk berbagi berdiskusi dan berbagi wawasan terkait penguatan integritas pasar modal nasional. Forum ini diharapkan mampu menyelaraskan persepsi para pemangku kepentingan dalam menyikapi dinamika reformasi bursa dan kebijakan pengawasan, sekaligus mendorong terciptanya ekosistem pasar modal yang semakin baik.
Objektif
- Meningkatkan pemahaman peserta mengenai arah kebijakan dan percepatan reformasi pasar modal Indonesia.
- Mendorong peran aktif industri sektor jasa keuangan dalam mendukung implementasi reformasi guna memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia.
- Meningkatkan optimisme terhadap prospek dan penguatan iklim investasi pasar modal Indonesia.
Peserta
Pimpinan dan Pegawai OJK, Perwakilan Industri Jasa Keuangan, Akademisi dan Masyarakat Umum
Pembicara
-
Jeffrey Hendrik (a. Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI))
-
I Nyoman Suka Yasa (b. Kepala Departemen Pemeriksaan Khusus, Pengawasan Keuangan Derivatif, Bursa Karbon dan Transaksi Efek OJK)
-
Antony Dirga (c. Direktur Utama PT. Trimegah Asset Management)