Strategi Meningkatkan Keamanan Ketahanan Siber di Sektor Jasa Keuangan
- 21 Mei 2026
- Lintas Sektor
- Online
Latar belakang
Di tengah percepatan digitalisasi dan meningkatnya ketergantungan pada teknologi informasi, risiko siber telah berkembang menjadi salah satu ancaman paling krusial bagi organisasi. Hasil kajian Institute of Internal Auditors (IIA) dalam laporan Risk in Focus menunjukkan risiko siber merupakan risiko utama yang dihadapi organisasi saat ini dan menjadi yang tertinggi dalam projeksi risiko untuk tiga tahun ke depan. Lebih lanjut, paparan terhadap risiko siber bersifat lintas sektor dengan hampir seluruh industri, mulai dari jasa keuangan, kesehatan, energi, manufaktur, hingga sektor publik, menghadapi kerentanan yang tinggi seiring meningkatnya digitalisasi proses bisnis (IIA 2025).
Sejumlah insiden global menegaskan besarnya dampak risiko siber seperti serangan ransomware pada Colonial Pipeline (2021) yang menyebabkan penghentian operasional infrastruktur energi dan gangguan pasokan bahan bakar di Amerika Serikat dengan kerugian mencapai $5juta untuk biaya pemulihan (CNBC 2021) dan peretasan pada Bybit yang mengakibatkan kerugian sekitar USD1.5 miliar (CSIS 2025). Contoh kasus ini menunjukkan bahwa risiko siber memiliki dampak luas tidak hanya pada operasional dan reputasi, tetapi juga pada stabilitas ekonomi dan kepercayaan publik.
Di Indonesia, risiko siber menunjukkan tren peningkatan seiring dengan akselerasi transformasi digital. Tingginya adopsi layanan keuangan digital, termasuk mobile banking dan fintech, diikuti dengan meningkatnya frekuensi dan kompleksitas serangan siber seperti phishing, malware, dan kebocoran data. Data dari Badan Siber dan Sandi Negara menunjukkan bahwa jumlah kejadian serangan siber dalam beberapa tahun terakhir berada pada level yang sangat tinggi atau tercatat sekitar 403,9 juta insiden pada tahun 2023. Tingginya volume serangan ini mencerminkan intensitas ancaman yang terus berkembang, baik dari sisi frekuensi maupun kompleksitas modus.
Merespons dinamika tersebut, penguatan ketahanan siber telah menjadi salah satu prioritas nasional. Hal ini tercermin dalam arah kebijakan pembangunan melalui Asta Cita, khususnya pada penguatan ketahanan digital dan pengembangan sumber daya manusia. Target peningkatan berbagai indikator global seperti Global Cybersecurity Index, Indeks Daya Saing Digital, dan Indeks Inovasi Global menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat posisi Indonesia di tingkat global. Kondisi ini menunjukkan ketahanan siber lebih dari sekedar sebagai isu teknologi, tetapi juga sebagai aspek strategis yang mencakup penguatan kapasitas SDM, tata kelola yang efektif, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Penyelenggaraan webinar ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman partisipan mengenai peran strategis tata kelola dalam pengelolaan risiko siber. Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk berbagi praktik dan memperkuat perspektif lintas fungsi dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks. Dengan demikian, peningkatan kapasitas diharapkan dapat mendorong kesiapan institusi dalam membangun ketahanan siber yang lebih kuat, menjaga kepercayaan publik, serta mendukung stabilitas sistem keuangan secara berkelanjutan.
Objektif
- Meningkatkan pemahaman peserta mengenai lanskap keamanan siber dan mekanisme penanganan serangan di sektor keuangan.
- Meningkatkan pemahaman peserta terkait berbagai ancaman siber dan risiko yang dapat memengaruhi operasional lembaga keuangan.
- Mendorong penerapan budaya keamanan siber yang proaktif dan mendukung ketahanan operasional lembaga keuangan.
Peserta
Pembicara
-
Slamet Aji Pamungkas (Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian, Badan Siber dan Sandi Negara)
-
Richi Aktorian (Vice President ISACA Indonesia Chapter)
-
Agustinus Nicholas Tobing (Audit Committee, Institute of Internal Auditors Indonesia)