Print

Menuju Kedaulatan Digital: Peran Sovereign AI dalam Transformasi Keuangan Indonesia

  • 23 April 2026
  • Lintas Sektor
  • Online

Latar belakang
  • Perkembangan artificial intelligence (AI) saat ini tidak lagi sekadar inovasi teknologi, melainkan telah menjadi pilar utama yang menentukan kekuatan ekonomi, pertahanan, dan keamanan siber suatu negara. Secara fundamental, implementasi Kecerdasan Buatan (AI) di tingkat global telah diakui sebagai instrumen revolusioner yang mampu mengakselerasi produktivitas, mengoptimalkan efisiensi operasional, serta memperkuat pengambilan keputusan berbasis data lintas industri, dengan proyeksi kontribusi terhadap perekonomian dunia yang diperkirakan menembus angka 15,7 triliun dolar AS pada tahun 2030[1].
  • Namun demikian, di tingkat global negara-negara yang tidak mampu mengadopsi dan mengelola AI secara mandiri berisiko besar menjadi pihak yang sepenuhnya bergantung pada kekuatan asing, yang pada akhirnya justru akan melemahkan kedaulatan mereka sendiri. Menyikapi risiko ketergantungan pada kekuatan asing tersebut, konsep Sovereign AI atau Kecerdasan Buatan Berdaulat hadir sebagai sebuah keharusan strategis, yang merujuk pada kemampuan suatu negara untuk memproduksi artificial intelligence menggunakan infrastruktur, data, dan ekosistem tenaga kerjanya secara mandiri[2]. Kemandirian ini sangat esensial guna mencegah suatu bangsa hanya beroperasi sebagai pasar konsumen pasif yang disebab artificial intelligence merupakan aset kedaulatan yang tidak sepatutnya dialihdayakan, melainkan harus dibangun dan dikendalikan secara internal oleh pemimpin negara itu sendiri.
  • Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan kebijakan Sovereign AI yang memastikan Indonesia tidak sekadar menjadi pasar pengguna, tetapi turut menjadi pengembang dan pemilik teknologi[3]. Adopsi Sovereign AI di Indonesia diproyeksikan akan menyumbangkan nilai tambah mencapai 140 miliar dolar AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2030. Di samping potensi lonjakan pertumbuhan ekonomi tahunan yang dapat menyentuh rasio 6,8 persen, integrasi ekosistem Sovereign AI ini akan membuka penciptaan ratusan ribu peluang lapangan pekerjaan baru yang berfokus pada keahlian teknologi tingkat tinggi, yang pada akhirnya akan meredefinisi posisi Indonesia dari sekadar negara pengadopsi pasif menjadi inovator teknologi yang kompetitif di kancah global[4].
  • Mengambil pelajaran dari lanskap global, beberapa negara telah membuktikan keberhasilan implementasi Sovereign AI untuk mengamankan kedaulatan data dan identitas lokal mereka. Sebagai contoh, Singapura memelopori SEA-LION, model kecerdasan buatan yang dirancang khusus untuk memahami 11 bahasa di kawasan Asia Tenggara beserta keragaman budaya lokalnya[5]. Di Timur Tengah, Uni Emirat Arab (UEA) juga berhasil mengembangkan Falcon sebagai salah satu model sumber terbuka terkemuka di dunia, didampingi oleh Jais yang dikhususkan untuk bahasa dan tata nilai Arab[6]. Secara spesifik pada sektor keuangan, Bank of Korea (BOK) baru-baru ini menjalin kerja sama strategis dengan Naver untuk membangun sistem Sovereign AI bernama BOKI. Sistem ini mencetak sejarah sebagai AI bank sentral pertama di dunia yang beroperasi secara otonom dan tertutup penuh di dalam jaringan internal bank, guna memastikan keamanan data finansial yang krusial tetap terisolasi dari jaringan eksternal[7].
  • Walaupun Sovereign AI menghadirkan manfaat atau peluang yang dihadirkan untuk Indonesia, terdapat tantangan yang perlu diperhatikan antara lain tingginya kebutuhan modal untuk membangun infrastruktur dan lokalisasi data, kekurangan sumber daya manusia yang mumpuni, dan pemerintah juga dituntut merumuskan regulasi untuk Sovereign AI yang menjadikan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan implementasi Sovereign AI di Indonesia.
  • Merespons urgensi dan tantangan strategis tersebut, OJK Institute menyelenggarakan webinar “Menuju Kedaulatan Digital: Peran Sovereign AI dalam Transformasi Keuangan Indonesia” sebagai wadah diskusi komprehensif terkait kesiapan Industri Jasa Keuangan (IJK) dalam pengimplementasian Sovereign AI. Melalui diskusi ini diharapkan dapat menghadirkan wawasan dan pengetahuan yang dapat mendorong kesiapan implementasi Sovereign AI di Indonesia.


 


[1] https://kominfo.jatimprov.go.id/berita/tahun-2030-kontribusi-ai-terhadap-produk-domestik-bruto-pdb-capai-15-7-triliun-dollar-as

[2] https://blogs.nvidia.com/blog/what-is-sovereign-ai/

[3] https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/menuju-kedaulatan-ai-indonesia-siapkan-generasi-kolaboratif-di-era-mesin-cerdas

[4] https://ioh.co.id/portal/id/ioh-corp-empowering-indonesia-report

[5] https://www.theguardian.com/technology/2025/oct/09/governments-spending-billions-sovereign-ai-technology

[6] https://www.lawfaremedia.org/article/sovereign-ai-in-a-hybrid-world--national-strategies-and-policy-responses

[7] https://www.techinasia.com/news/south-koreas-central-bank-naver-launch-sovereign-ai-system

Objektif
  1. Memberikan wawasan dan pemahaman kepada peserta mengenai Peta Jalan (Roadmap) dan kebijakan tata kelola Sovereign AI nasional guna mewujudkan kedaulatan digital serta perlindungan data di sektor keuangan.
  2. Memberikan wawasan kepada peserta mengenai potensi Sovereign AI bagi sektor keuangan.
  3. Memberikan wawasan kepada peserta mengenai kesiapan infrastruktur dan ketersediaan SDM yang mumpuni dalam mendukung realisasi Sovereign AI
Peserta
Pimpinan dan Pegawai OJK, Perwakilan Industri Jasa Keuangan, Akademisi dan Masyarakat Umum
Pembicara
  • Aju Widya Sari (Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru, Direktorat Jenderal Ekosistem Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital RI)
  • Wisu Sutoyo (Chief Technology Officer, IBM Indonesia)
  • Fauzan Feisal (Deputy EGM Digital Product Telkom Indonesia)